Selasa, 20 Januari 2009

Jogjakarta

-->
Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah keraton Jogjakarta. Kunjungan yang sama sekali tidak direncanakan, semuanya terjadi hanya dalam waktu 5 menit. Waktu itu aku baru saja kembali ke tanah jawa setelah beberapa minggu menghabiskan waktu di tanah kelahiranku, Belitung. Dari Bandara Soekarno Hatta, aku memilih menggunakan jasa transportasi kereta api untuk sekedar berhemat. Bila aku menggunakan jasa bis cepat, aku harus membayar sejumlah Rp. 75.000,-  dengan pemberhentian akhir Bandung Supermall. Namun bila menggunakan kereta api, aku hanya harus membayar Rp. 40.000,- dengan rincian Rp. 20.000,-
untuk bus Bandara Soekarno Hatta ke Stasiun gambir dan Rp. 20.000,- untuk tiket kereta Stasiun Gambir ke Stasiun Bandung.

Peluit tanda persiapan kereta sudah dibunyikan, Aku sudah duduk mantap di dalam kereta parahyangan. Namun sekilas aku mendengar pengumuman bahwa kereta Taksaka tujuan Jogjakarta telah tersedia di jalur 2 Stasiun Gambir. Entah dapat ilham darimana, tiba-tiba saja muncul dalam benakku muncul kata “Jogjakarta”. Kereta tiba-tiba bergerak perlahan, dan tanpa pertimbangan lebih lama lagi, aku langsung berlari ke pintu dan melompat keluar sebelum kereta berjalan lebih cepat.

Sia-sialah sudah tiket kereta tujuan bandung yang kupegang kini, namun itu bukan aral yang berarti. Karena tekadku kini sudah bulat untuk pergi ke Jogjakarta. Aku kemudian turun ke loket pembelian tiket langsung, semoga masih ada seat yang tersisa. Tiket Kereta Taksaka tujuan Jogjakarta sudah habis untuk waktu yang paling dekat, hanya tersisa satu kereta terakhir pukul 21.05 WIB. Aku sempat shock, apalagi setelah melihat harga yang tertera di papan kecil yang ada di depan loket, Taksaka Rp. 220.000,-.

Keputusan sudah kuambil, kereka ke Bandung sudah berlari.Barang tak mungkin merubahnya lagi, harus kutunaikan. Kini tiket ke Jogja sudah ditangan, yang harus kulakukan saat ini hanyalah menunggu, mengingat sekarang baru pukul 4 sore. Senja pun akhirnya datang, temaram yang selalu datang dari timur. Rasa bosan ini mulai terobati, ketika kereta taksaka sudah terparkir di sepanjang jalur 4. Aku memastikan kembali gerbong dan tempat dudukku sambil memberikan tiketku kepada petugas, sembari menggoda kecantikannya. Rupanya kereta keretaku kelas eksekutif, maklum ini jarang-jarang naik kelas beginian jadi agak sedikit takjub. Setengah jam kemudian kereta berangkat menuju kota Jogjakarta dan aku pun terlelap.

Perjalanan ke Jogjakarta cukup memakan waktu, aku pun mulai gelisah dengan kehadiran rasa lapar di tengah malam. Untung saja kereta ini menyediakan menu makanan yang cukup menggiurkan dan sedikit menguras kantong. Tetapi apa boleh buat, tidak ada pilihan, mudah-mudahan nasi goreng ini mencukupi. Rasa pusing dan jenuh mulai datang silih berganti yang berdampak pada gejala mabuk perjalanan. Untung saja masinis mengumumkan bahwa stasiun tugu jogjakarta akan ditempuh dalam waktu 10 menit lagi.

Kereta akhirnya berhenti dengan sempurna, aku pun keluar dari gerbong dan memandang ke sekeliling. Lalu mulai berjalan mengikuti arus perjalanan penumpang lainnya menuju pintu keluar. Akhirnya aku menghirup udara Jogjakarta di pagi hari. Seperti biasa rombongan tukang ojeg dan delman menyusun formasi di pintu keluar. Kucoba menyelip diantara kerumunan penumpang menuju ke gerbang keluar. Tiba-tiba disebelahku muncul seorang perempuan dengan menyandang ransel yang cukup besar mulai terganggu dengan rayuan maut tukang delman. Entah bagaimana kejadiannya tiba-tiba dia seakan mencoba mencari perlindungan dariku, aku pun paham langsung berperan sebagai temannya.

Lalu kami berkenalan, namanya Amy, dia backpacker dari Shanghai, China. Kami berjalan menyusuri jalan Malioboro untuk mencari homestay tempat Amy menginap, Dewi homestay yang terletak di kawasan sostrowijoyo. Aku pun mengantarnya hingga ke loby homestay tersebut lalu berpamitan pulang, namun tiba-tiba Amy menahanku dan menawarkan untuk sharing trip ke Candi Borobudur pada esok hari. Tak enak menolak ajakan tersebut, akhirnya aku mengiyakannya dan meninggalkan nomor handphoneku padanya dan berpamitan.

Ini masih terlalu pagi bagiku, tak tahu harus kemana hanya menyusuri jalanan dan akhirnya tertidur di kursi taman depan benteng Van Ben Burg. Suara gitar membangunkan aku, rupanya hari sudah tak lagi pagi, seorang pengamen muda sedang menyetem gitar duduk tak jauh dariku. Singkat cerita kami pun berkenalan, namanya Asep, Orang sunda yang terdampar di Jogjakarta. Kami cepat akrab karena modal bahasa sunda yang aku pelajari selama kuliah di bandung dan akhirnya menemaninya mengamen di sepanjang jalan malioboro. Aku tidak bernyanyi, hanya bertepuk tangan saja dan menyodorkan kantong plastik kepada calon “penggemar” kami. Asep membelikanku nasi kucing dari hasil mengamen, aku pun melahanya dengan lahap. Singkat cerita aku akhirnya menginap dirumah Dedep, teman sekolahku di SMA 1 Tanjungpandan.

Keesokan harinya, tepat pukul 8 Amy sudah mengirimkan SMS kepadaku. Memastikan aku sudah bangun dan siap untuk trip ke Borobudur. Berselang 1 jam aku sudah ada di depan homestay tempat amy menginap. Kami pun memulai perjalanan menggunakan Angkot dan dilanjutkan dengan Andong hingga tiba di pintu gerbang Candi Borobudur. Setelah membayar tiket masuk pada loket yang berbeda kami pun mulai berjalan menyusuri Candi Borobudur. Amy mengambil beberapa gambar pada sudut-sudut candi dan beristirahat sejenak di salah satu warung di kawasan candi. Kami banyak bertukar cerita perihal pendidikan, pekerjaan dan segala hal tentang perbedaan antara China dan Indonesia.

Menjelang sore kami pun beranjak pulang karena Amy harus bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Bali keesokan hari.Beberapa kali kami sempat berkomunikasi lewat email dan facebook. Tetapi kemudian hilang kontak dan aku pun lupa pasword emailku yang ada kontak Amy di inboxnya. Senang bisa memiliki teman di seluruh dunia.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar