Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di tanah keraton Jogjakarta.
Kunjungan yang sama sekali tidak direncanakan, semuanya terjadi hanya dalam
waktu 5 menit. Waktu itu aku baru saja kembali ke tanah jawa setelah beberapa
minggu menghabiskan waktu di tanah kelahiranku, Belitung. Dari Bandara Soekarno
Hatta, aku memilih menggunakan jasa transportasi kereta api untuk sekedar
berhemat. Bila aku menggunakan jasa bis cepat, aku harus membayar sejumlah Rp.
75.000,- dengan pemberhentian akhir
Bandung Supermall. Namun bila menggunakan kereta api, aku hanya harus membayar
Rp. 40.000,- dengan rincian Rp. 20.000,-
untuk bus Bandara Soekarno Hatta ke Stasiun gambir dan Rp. 20.000,- untuk tiket kereta Stasiun Gambir ke Stasiun Bandung.
untuk bus Bandara Soekarno Hatta ke Stasiun gambir dan Rp. 20.000,- untuk tiket kereta Stasiun Gambir ke Stasiun Bandung.
Peluit tanda persiapan kereta sudah dibunyikan, Aku sudah
duduk mantap di dalam kereta parahyangan. Namun sekilas aku mendengar
pengumuman bahwa kereta Taksaka tujuan Jogjakarta telah tersedia di jalur 2
Stasiun Gambir. Entah dapat ilham darimana, tiba-tiba saja muncul dalam benakku
muncul kata “Jogjakarta”. Kereta tiba-tiba bergerak perlahan, dan tanpa
pertimbangan lebih lama lagi, aku langsung berlari ke pintu dan melompat keluar
sebelum kereta berjalan lebih cepat.
Sia-sialah sudah tiket kereta tujuan bandung yang kupegang
kini, namun itu bukan aral yang berarti. Karena tekadku kini sudah bulat untuk
pergi ke Jogjakarta. Aku kemudian turun ke loket pembelian tiket langsung,
semoga masih ada seat yang tersisa. Tiket Kereta Taksaka tujuan Jogjakarta
sudah habis untuk waktu yang paling dekat, hanya tersisa satu kereta terakhir
pukul 21.05 WIB. Aku sempat shock, apalagi setelah melihat harga yang tertera
di papan kecil yang ada di depan loket, Taksaka Rp. 220.000,-.
Keputusan sudah kuambil, kereka ke Bandung sudah berlari.Barang
tak mungkin merubahnya lagi, harus kutunaikan. Kini tiket ke Jogja sudah
ditangan, yang harus kulakukan saat ini hanyalah menunggu, mengingat sekarang
baru pukul 4 sore. Senja pun akhirnya datang, temaram yang selalu datang dari
timur. Rasa bosan ini mulai terobati, ketika kereta taksaka sudah terparkir di
sepanjang jalur 4. Aku memastikan kembali gerbong dan tempat dudukku sambil
memberikan tiketku kepada petugas, sembari menggoda kecantikannya. Rupanya
kereta keretaku kelas eksekutif, maklum ini jarang-jarang naik kelas beginian
jadi agak sedikit takjub. Setengah jam kemudian kereta berangkat menuju kota
Jogjakarta dan aku pun terlelap.
Perjalanan ke Jogjakarta cukup memakan waktu, aku pun mulai
gelisah dengan kehadiran rasa lapar di tengah malam. Untung saja kereta ini
menyediakan menu makanan yang cukup menggiurkan dan sedikit menguras kantong.
Tetapi apa boleh buat, tidak ada pilihan, mudah-mudahan nasi goreng ini
mencukupi. Rasa pusing dan jenuh mulai datang silih berganti yang berdampak
pada gejala mabuk perjalanan. Untung saja masinis mengumumkan bahwa stasiun
tugu jogjakarta akan ditempuh dalam waktu 10 menit lagi.
Kereta akhirnya berhenti dengan sempurna, aku pun keluar
dari gerbong dan memandang ke sekeliling. Lalu mulai berjalan mengikuti arus
perjalanan penumpang lainnya menuju pintu keluar. Akhirnya aku menghirup udara
Jogjakarta di pagi hari. Seperti biasa rombongan tukang ojeg dan delman
menyusun formasi di pintu keluar. Kucoba menyelip diantara kerumunan penumpang
menuju ke gerbang keluar. Tiba-tiba disebelahku muncul seorang perempuan dengan
menyandang ransel yang cukup besar mulai terganggu dengan rayuan maut tukang
delman. Entah bagaimana kejadiannya tiba-tiba dia seakan mencoba mencari
perlindungan dariku, aku pun paham langsung berperan sebagai temannya.
Lalu kami berkenalan, namanya Amy, dia backpacker dari
Shanghai, China. Kami berjalan menyusuri jalan Malioboro untuk mencari homestay
tempat Amy menginap, Dewi homestay yang terletak di kawasan sostrowijoyo. Aku
pun mengantarnya hingga ke loby homestay tersebut lalu berpamitan pulang, namun
tiba-tiba Amy menahanku dan menawarkan untuk sharing trip ke Candi Borobudur
pada esok hari. Tak enak menolak ajakan tersebut, akhirnya aku mengiyakannya
dan meninggalkan nomor handphoneku padanya dan berpamitan.
Ini masih terlalu pagi bagiku, tak tahu harus kemana hanya
menyusuri jalanan dan akhirnya tertidur di kursi taman depan benteng Van Ben Burg.
Suara gitar membangunkan aku, rupanya hari sudah tak lagi pagi, seorang
pengamen muda sedang menyetem gitar duduk tak jauh dariku. Singkat cerita kami pun
berkenalan, namanya Asep, Orang sunda yang terdampar di Jogjakarta. Kami cepat
akrab karena modal bahasa sunda yang aku pelajari selama kuliah di bandung dan
akhirnya menemaninya mengamen di sepanjang jalan malioboro. Aku tidak
bernyanyi, hanya bertepuk tangan saja dan menyodorkan kantong plastik kepada
calon “penggemar” kami. Asep membelikanku nasi kucing dari hasil mengamen, aku
pun melahanya dengan lahap. Singkat cerita aku akhirnya menginap dirumah Dedep,
teman sekolahku di SMA 1 Tanjungpandan.
Keesokan harinya, tepat pukul 8 Amy sudah mengirimkan SMS
kepadaku. Memastikan aku sudah bangun dan siap untuk trip ke Borobudur.
Berselang 1 jam aku sudah ada di depan homestay tempat amy menginap. Kami pun
memulai perjalanan menggunakan Angkot dan dilanjutkan dengan Andong hingga tiba
di pintu gerbang Candi Borobudur. Setelah membayar tiket masuk pada loket yang
berbeda kami pun mulai berjalan menyusuri Candi Borobudur. Amy mengambil
beberapa gambar pada sudut-sudut candi dan beristirahat sejenak di salah satu
warung di kawasan candi. Kami banyak bertukar cerita perihal pendidikan,
pekerjaan dan segala hal tentang perbedaan antara China dan Indonesia.
Menjelang sore kami pun beranjak pulang karena Amy harus
bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Bali keesokan hari.Beberapa kali kami sempat berkomunikasi lewat email dan facebook. Tetapi kemudian hilang kontak dan aku pun lupa pasword emailku yang ada kontak Amy di inboxnya. Senang bisa memiliki teman di seluruh dunia.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar