Kamis, 22 April 2010

Semarang


Sabtu, 17 April 2010

17:30
WIB Saya berangkat dari Stasiun Cicaheum ke Semarang, terpaksa menggunakan travel Bandung Ekspress Rp. 60.000,-(tanpa AC) karena belum cukup informasi untuk menggunakan kereta.(Untuk Lebih Murah)

Minggu, 18 April 2010

04.35
WIB Bis berhenti sesaat untung menurunkan saya, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Jepara. Akhirnya saya tiba di Semarang dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun, tepatnya di depan Kolam Poder di daerah Tawang. Berikut salah satu jepretan pertama saya di Semarang, sebuah Tugu disalah satu sudut Powder.

05.30 WIB
Saya diantar Pak Harso mencari sebuah hotel di daerah Johar, tepatnya didepan Mesjid Kauman. Disana terdapat Hotel Semarang dan Hotel Sahara, walaupun menurut saya bangunan tersebut tidak layak disebut hotel. Setelah membayar Ongkos Rp. 5.000,- atas jasa Pak Harso, saya langsung menuju kesalah satu hotel tersebut, sepertinya Hotel Sahara menjadi pilihan saya berdasarkan feeling semata. Bingo...!!! Rp. 35.000/hari (24 jam, Check Out Pukul 14.00). Kamar dengan Fasilitas kelas melati, yaitu sebuah tempat tidur yang lumayan besar untuk 2 orang ( 3 orang jika dipaksakan), cermin besar, sebuah meja, kursi dan sebuah kipas angin yang lumayan besar bertengger dilangit-langit kamar(pict). Sayangnya kamar mandi berada terpisah dari kamar sehingga cukup menyulitkan bagi backpackerwati , maklum perempuan butuh privacy lebih.

Pukul 08.30
Setelah mandi dan tidur sejenak, saya berusaha mengumpulkan informasi tentang spot-spot mantap di Semarang. Untung saja, hotel tersebut memajang sebuah peta pariwisata Kota Semarang. Disana saya menemukan 5 spot yang cukup menarik, yaitu Central Museum Java, Tugu Muda, Simpang Lima, Goa Kreo dan Kebun Binatang. Yup, sekarang tinggal mencari informasi untuk transportasi menuju ketempat-tempat tersebut.

Pukul 08.30
Saya bertolak dari hotel menuju kawasan yang sangat terkenal di Semarang, Yaitu Simpang Lima. Setelah berjalan lebih kurang 30 menit, saya disuguhi pemandangan lapangan luas berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai muara lima jalan utama, oleh karena itu diberi nama simpang lima. Apa yang saya temui ? hmm..seperti pasar rakyat dadakan, mirip Pasar Gasibu di Bandung, bedanya disini berbentuk lingkaran dan sedikit lebih teratur. Mungkin bro and sys akan menghabiskan waktu 30 menit untuk mengelilingi, itu belum termasuk waktu berbelanja dan tawar menawar. Untungnya saya tidak berbelanja, karena tidak termasuk kedalam anggaran.

10.00 WIB
Saya melanjutkan perjalanan menuju Tugu Muda, sebetulnya saya bisa menggunakan jasa transportasi angkot berwarna Orange Putih Nomor 08 jurusan Karang Ayu-Pengaron. Namun saya ingin sedikit berhemat, Rp. 2.000,- cukup berharga saat ini. So saya memutuskan untuk berjalan kaki selama 15 menit sembari menikmati terbakarnya kulit saya akibat sengat matahari yang cukup ganas.


10.20 WIB
Akhirnya saya sampai disebuah persimpangan yang cukup luas dan teratur. Disana saya menemukan beberapa spot sejarah yang cukup menarik. Diantaranya Lawang Sewu, Tugu Muda, Museum Perjuangan Diponegoro, dan Wisma Perdamaian. Sayangnya beberapa tempat tidak bisa saya kunjungi, seperti lawang sewu karena sedang dalam proses renovasi, Museum Perjuangan Diponegoro karena tidak dibuka untuk umum disebabkan beberapa alasan keamanan dan Wisma perdamaian yang menjadi tempat tinggal pejabat nomor satu di semarang. Tugu Muda, adalah sebuah tunggu yang berbentuk mirip seperti Monumen Nasional (monas) namun ukurannya sedikit Kecil, dikelilingi kolam berbentuk lingkaran yang pada waktu-waktu tertentu menyemburkan air mancur dari sisi kiri dan kanannya (seperti tampak pada gambar). dibagian depan bangunan terdapat rongsokan lokomotif tua yang sudah tidak berdaya lagi , namun memiliki nilai eksotika dan sejarah yang luar biasa.( pict )

01.10 WIB
Sebuah SMS dari kerabat dekat saya, Fauzi yang kebetulan berdomisili di Semarang ingin bertemu. Alhasil saya harus menunda rencana untuk pergi ke Goa Kreo, dan memutuskan kembali ke hotel.

03.00 WIB
Fauzi datang ke hotel, setelah bercakap-cakap kami segera melanjutkan perjalanan ke Mesjid Agung Jawa Tengah menggunakan sepeda motor miliknya. Hmm...mohon maaf buat teman-teman ransel, jadi kehilangan informasi soal rute perjalanan dari hotel ke Mesjid yang konon katanya termegah setelah Mesjid Istiqlal.

03.20 WIB
Saya dan Fauzi tiba di Mesjid Agung, Subhanallah....megah sekali bangunannya dan sangat futuristik...dilengkapi dengan 4 payung raksasa yang super besar. Pada hari tertentu, misalnya hari Jum’at payung tersebut akan mekar dan menutupi are teras mesjid utama sehingga membentuk seperti aula yang besar sekali. Tampak altar yang besar diselipi ayat-ayat alquran menyambut dengan baik setiap pengunjung yang datang. Suasana disana sangat ramai sekali, persis seperti tempat wisata saja. Entah dikondisikan seperti itu atau terjadi secara alami, mungkin teman-teman Pembaca yang berasal dari Semarang bisa menjelaskan semua itu. Tak hanya itu, saya juga dijejali dengan pemandangan yang tidak kalah menarik. Yaitu sebuah Beduk Raksasa yang berdiameter kurang lebih 2 meter ini. . Tidak hanya itu, saya juga dikejutkan dengan kehadiran sebuah menara yang tinggi luar biasa. Hanya dengan uang Rp. 5.000,- kita bisa menikmati pemandangan kota Semarang dari atas sana. Namun ternyata tidak semudah itu, pengunjung yang datang ramai sekali.(pict)

05.30 WIB Kami kembali ke Hotel.

Rincian Biaya

More Pict


Tidak ada komentar :

Posting Komentar